Jumat, 27 Juni 2014

Kebijakan Pemerintah apabila APBN Defisit


Kebijakan yang dilakukan pemerintah apabila APBN negara defisit yaitu menambah sisi penerimaan atau mengurangi sisi pengeluaran.
a.  Sisi penerimaan :

(1)    Meminjam dari perbankan dalam negeri. Dengan meminjam dari perbankan dalam negeri berarti terjadi penciptaan uang, sehingga uang yang beredar dalam masyarakat meningkat. Dampak terhadap pertambahnya penawaran uang yang tidak diimbangi dengan jumlah barang yang diproduksi, akan mengakibatkan kenaikan harga-harga umum atau inflasi.
(2)   Meminjam dari non perbankan dalam negeri atau masyarakat dengan cara menerbitkan obligasi. Di satu pihak penjualan obligasi pemerintah akan menyerap uang masyarakat dan menambah penerimaan negara. Penyerapan uang dari masyarakat berakibat mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, yang akibatnya berdampak pada penurunan harga. Akan tetapi dengan penjualan obligasi kepada masyarakat dapat juga berakibat disamping menambah pemasukan negara, juga mengurangi tabungan masyarakat yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk investasi masyarakat.         
(3)       Meminjam dari luar negeri.
Dengan meminjam dari luar negeri itu kita mempunyai modal untuk mengembangkan industri dan proyek- proyek yang produktif Sedangkan pembayaran cicilannya dapat diambil dari perpajakan yang akan ditarik dari perusahaan-perusahaan yang telah mantap hasil dari pinjaman sebelumnya.
(4)    Meningkatkan penerimaan pajak. Dengan meningkatkan penerimaan pajak, baik pajak langsung maupun pajak tidak langsung.
(5)    Mencetak uang.
           Kebijakan ini perlu diperhitungkan dengan matang , karena jika mencetak uang berarti akan menambah uang yang beredar di masyarakat dan itu akan berdampak pada inflasi.Apalagi apabila pengeluaran masyarakat dibelanjakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak produktif atau tidak efisien. Pengeluaran yang tidak efisien ini dapat dilihat dari 4 aspek,yaitu pertama kegiatan yang saling bertentangan antara sektor negara dan swasta. Kedua kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan pembangunan, ketiga kegiatan yang dilaksanakan dengan biaya yang lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh. Keempat pengeluaran yang bertentangan dengan tujuan makro ekonomi, misalnya penciptaan kesempatan kerja, penciptaan devisa. Negara cenderung untuk memilih menutup defisit dengan cara meminjam ke luar negeri dibanding dengan menambah pajak, dengan alasan : (a). dengan meminjam ke luar negeri, penerimaan pajak bisa diprioritaskan untuk keperluan lain yang lebih produktif; (b). pemungutan pajak sangat rendah; (c). meminjam ke luar negeri dapat meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana yang mempunyai dampak tumbuhnya investasi swasta dan yang berakibat pada peningkatan penerimaan pajak. 
b. Sisi pengeluaran :
(1).   Mengurangi subsidi, yaitu bantuan yang diambil dari anggaran negara untuk pengeluaran yang sifatnya membantu konsumen untuk mengatasi tingginya harga yang tidak terjangkau oleh mereka agar tercipta kestabilan politik dan sosial lainnya, misalnya subsidi pupuk, subsidi bahan bakar minyak (BBM), subsidi listrik, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya negara memberikan subsidi terhadap suatu barang, karena barang itu dianggap harganya terlalu tinggi dibanding dengan kemampuan daya beli masyarakat. Agar tidak terjadi gejolak di masyarakat, maka negara mengeluarkan dana untuk mensubsidi barang tersebut. Subsidi itu dilakukan dengan beberapa cara, misalnya : memberikan subsidi kepada konsumen dengancara memberikan subsidi harga barang-barang yang dikonsumsi; memberikan subsidi kepada produsen, yaitu memberikan subsidi pada bahan baku yang dipergunakan untuk memproduksi barang tersebut. Kalau pengeluaran subsidi itu dikurangi akan berakibat pada kenaikan harga barang yang diberi subsidi itu.
(2).  Penghematan pada setiap pengeluaran baik pengeluaran rutin maupun pembangunan. Penghematan pada pengeluaran rutin dilakukan oleh departemen teknis, misalnya untuk pengeluaran listrik, telepon, alat tulis, perjalanan dinas, rapat-rapat, seminar, dan sebagainya tanpa mengurangi kinerja dari departemen teknis yang bersangkutan.
 (3).  Menseleksi sebagian pengeluaran-pengeluaran pembangunan. Pengeluaran pembangunan yang berupa proyek-proyek pembangunan diseleksi menurut prioritasnya, misalnya proyek-proyek yang cepat menghasilkan. Proyek-proyek yang menyerap biaya besar dan penyelesaiannya dalam jangkawaktu yang lama, sementara ditunda pelaksanaannya
(4).  Mengurangi pengeluaran program-program yang tidak produktif dan tidak   efisien. Program-program semacam itu adalah program-program yang tidak mendukung pertumbuhan sektor riil, tidak mendukung kenaikan penerimaan pajak, dan tidak mendukung kenaikan penerimaan devisa. Pemotongan program-program ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pemotongan pengeluaran tanpa memperbaiki produktivitas program, berarti akan ada kecenderungan akan menurunnya kualitas dan kuantitas output.

Referensi:
Boediono, Dr, Pembenahan Institusi Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi(Keynote Speechdisampaikan pada Kongres Ikatan alumni Australia ke-1 di Jakarta, 20 Maret 1999)
www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/10710/2426/‎

Minggu, 01 Juni 2014

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2011-2012




Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.

1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011


Meski gejolak ekonomi dunia terus berlangsung, namun sepanjang 2011 lalu Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus. Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (6/2) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2011 lalu sebesar 6,5%.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS, Suryamin menyebutkan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 tercatat sebesar 6,5% dengan pembentukan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 1.931,3 triliun. Secara kumulatif, PDB Indonesia pada 2011 berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 7.427,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp 2.463,2 triliun.

Ia menambahkan, jika melihat pencapaian pertumbuhan ekonomi 2011 dengan realisasi PDB kuartal IV yang sebesar Rp 624 triliun, angka itu tumbuh 6,46% ketimbang periode yang sama pada 2010.

Tapi, kalau dibandingkan dengan PDB kuartal III 2011, PDB kuartal IV turun sekitar 1,3%. "Penurunan PDB kuartal IV ini merupakan siklus, karena penurunan juga terjadi pada kuartal IV dibanding kuartal III, pada 2009 dan 2010. Tapi penurunanya relatif mengecil," ujar Suryamin, Senin (6/2).

Suryamin menjelaskan, pada 2011 lalu terjadi pertumbuhan di semua sektor ekonomi. Pertumbuhan tertinggi, kata Suryamin, terjadi di sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 10,7%, sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh 9,2%, sedangkan sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan tumbuh 6,8%.

Jika dilihat dari sektor industri, penyumbang terbesar PDB 2011 berasal dari industri pengolahan 24,3%, pertanian 14,7%, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 13,8%. Meski sektor pertanian masih tumbuh, tapi kalau dilihat tiga tahun berturut-turut pertumbuhan sektor pertanian terus menurun. Pertumbuhan industri pertanian pada 2009 dan 2010 masing-masing 15,3%, sedangkan industri pengolahan masing-masing 26,4% dan 24,8%. "Ada pergeseran dari sektor primer ke sekunder dan tersier," terang Suryamin.

Sementara itu, dari sisi penggunaan, Suryamin bilang, laju PDB 2011 bisa dilihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga 4,7%, konsumsi pemerintah 3,2%, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 8,8%, ekspor 13,6%, dan impor 13,3%. Distribusi PDB-nya adalah 54,6% konsumsi rumah tangga, 9% belanja pemerintah, 32% PMTB, 26,3% ekspor, serta impor 24,9%. "Dari hasil penghitungan kami sejak 2006, setiap 1% pertumbuhan menyerap sekitar 400.000-450.000 tenaga kerja. Namun untuk 2011 kami belum punya data, masih dihitung," imbuhnya.

Dilihat dari sisi distribusinya, PDB 2011 masih didominasi Pulau Jawa sebesar 57,6%. Lalu diikuti oleh Pulau Sumatera 23,5%, Kalimantan 9,6%, Sulawesi 4,6%, dan wilayah lain 4,7%.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 cukup menggembirakan. Pasalnya, meski sedang terjadi krisis global, tapi Indonesia masih bisa tumbuh 6,5%. "Kalau kita bandingkan dengan krisis 2009, kita tumbuh 4,6%, dan sekarang dalam kondisi krisis kita bisa tumbuh 6,5%," ungkapnya.

Selain itu, Agus bilang pada 2011 lalu peran dari investasi cukup terlihat yaitu sebesar 8%. "Sekarang kita bisa capai 6,5%, peran dari investasi sangat mencolok, kita harapkan nanti pertumbuhan di tahun 2012 investasi bisa tumbuh 10%," katanya.

Untuk 2011, koreksi dilakukan untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I, II, dan III. Pertumbuhan kuartal II, yang tadinya 6,49% diralat menjadi 6,43%. Sementara pertumbuhan kuartal II, yang tadinya 6,52% jadi 6,45%, sedangkan kuartal III dari 6,54% jadi 6,46%.

2.a. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2012
mencapai Rp2.618,1 triliun, naik Rp153,4 triliun dibandingkan tahun 2011 (Rp2.464,7 triliun). Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDB tahun 2012 naik sebesar Rp819,1 triliun, yaitu dari Rp7.422,8 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp8.241,9 triliun pada tahun 2012.





Perekonomian Indonesia pada tahun 2012 tumbuh sebesar 6,23 persen dibanding tahun 2011,dimana semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang mencapai 9,98 persen, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 8,11 persen, Sektor Konstruksi 7,50 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 7,15 persen, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih 6,40 persen, Sektor Industri Pengolahan 5,73 persen, Sektor Jasa-Jasa 5,24 persen, Sektor Pertanian 3,97 persen, dan Sektor Pertambangan dan Penggalian 1,49 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2012 mencapai 6,81 persen yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB. Sektor Industri Pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap total pertumbuhan PDB,dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,47 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang memberikan sumber pertumbuhan masing-masing 1,44 persen dan 0,98 persen.


2.b. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2012

Ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2012 yang digambarkan oleh PDB atas dasar harga konstan 2000 turun sebesar 1,45 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q). Penurunan tersebut mengikuti pola triwulanan yaitu mengalami kontraksi pada triwulan IV setelah terjadi kenaikan pada triwulan III. Kontraksi pada triwulan IV-2012 ini disebabkan Sektor Pertanian mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 23,06 persen karena siklus musiman. Sementara sektor-sektor lainnya selama triwulan IV-2012 mengalami pertumbuhan positif yaitu: Sektor Konstruksi tumbuh 4,02 persen,Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh 3,34 persen, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran tumbuh 2,74 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 2,00 persen, Sektor Jasa-Jasa tumbuh 1,96 persen, Sektor Industri Pengolahan tumbuh 1,41 persen, Sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan tumbuh 1,23 persen, dan Sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh sebesar 0,20 persen.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012:
  • Ekspor
Ekspor tersebut turun karena harga komoditas, permintaan global yang menurun akibat krisis ekonomi   Menurunnya ekspor banyak terjadi di produk – produk komoditas utama yaitu kelapa sawit mentah, timah , tembaga, karet.
  • Harga minyak dunia
Harga minyak dunia berfluktuatif melihat perkembangan di timur tengah yang terutama terjadi di Iran. Ketergantungan Indonesia pada import minyak  berakibat buruk pada pertumbuhan ekonomi di Indonesi
  • Krisis hutang eropa
Adanya krisis global dipicu kesulitan keuangan di zona eropa menyebabkan menurunnya ekspor di Indonesia, kerena eropa merupakan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.
referensi :
http://kelompokinsurance.wordpress.com/2013/06/16/analisis-faktor-faktor-penentu-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-dan-pasar-modal-indonesia/