Nama : Fitriana Wulandari
NPM : 23213553
Kelas : 4EB01
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Translasi
mata uang asing berbeda dengan konversi mata uang asing. Translasi hanyalah
perubahan satuan unit moneter, seperti halnya sebuah neraca yang dinyatakan
dalam poundsterling Inggris disajikan ulang kedalam nilai dollar AS. Tidak ada
pertukaran fisik yang terjadi, dan tidak ada transaksi terkait yang terjadi
seperti bila dilakukan konversi.
Terkadang sulit dibedakan antara konversi dan translasi oleh karena itu, penting untuk mengetahui teorinya agar dapat membedakan dalam praktiknya.
Terkadang sulit dibedakan antara konversi dan translasi oleh karena itu, penting untuk mengetahui teorinya agar dapat membedakan dalam praktiknya.
Perusahaan
dengan kegiatan operasional luar negeri yang signifikan mempersiapkan laporan
keuangan gabungan yang memberikan laporan pada para pembaca informasi mengenai
operasional perusahaan secara global. Untuk memenuhi hal tersebut, laporan
keuangan mata uang asing dilaporkan lagi terhadap mata uang yang digunakan
laporan induk perusahaan. Sehingga diperlukan pengetahuan mendalam mengenai
translasi. Proses pelaporan informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang
lainnya disebut translasi mata uang asing.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Pengertian Translasi Mata Uang
Asing
Translasi
mata uang asing adalah proses pelaporan informasi keuangan dari satu mata uang
ke mata uang lainnya. Translasi mata uang asing dilakukan untuk mempersiapkan
laporan keuangan gabungan yang memberikan laporan pada pembaca informasi
mengenai operasional perusahaan secara global, dengan memperhitungkan laporan
keuangan mata uang asing dari anak perusahaan terhadap mata uang asing induk
perusahaan.
Tiga alasan tambahan dilakukannya translasi mata uang asing, yaitu:
Tiga alasan tambahan dilakukannya translasi mata uang asing, yaitu:
1) mencatat
transaksi mata uang asing
2) memperhitungkan
efeknya perusahaan terhadap translasi mata uang
3) berkomunikasi
dengan peminat saham asing.
Transaksi
mata uang bisa terjadi langsung di pasar spot, pasar forward, atau pasar swap:
1) Kurs
pasar spot
Valuta
asing yang diperjualbelikan di pasar spot biasanya harus dikirimkan
segera dalam dua hari bisnis. Nilai tukar dalam
pasar spot dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantaranya, perbedaan
tingkat inflasi antara dua negara yang bersangkutan, perbedaan suku bunga
nasional, dan kekuatan permintaan dan penawaran yang kompleks yang dipengaruhi
oleh harapan terhadap pergerakan kurs di masa depan. Kurs pada pasar spot bersifat
langsung atau tidak langsung. Pada tranaslasi secara langsung, kurs menetapkan
jumlah unit mata uang domestik yang dibutuhkan untuk mendapatkan unit mata uang
asing. Sedangkan translasi secara tidak langsung, harga satu buah unit mata
uang domestik dalam mata uang asing.
2) Transaksi
pasar forward
adalah
persetujuan untuk mentranslasikan sejumlah mata uang yang telah ditetapkan
untuk masa yang akan datang. Translasi pada pasar forward mendapatkan
potongan atau premi dari pasar spot. Pasar forward seringkali
memasukkan translasi bid dan ask (penawaran dan permintaan).
3) Transaksi swap
Transaksi
swap melibatkan pembelian spot dan penjualan forward secara
simultan, atau penjualan spot dan pembelian forward secara
mata uang. Para investor sering kali menggunakan transaksi swap untuk
mendapatkan keuntungan dari tingkat saham negara asing yang tinggi sementara
juga secara simultan berjaga-jaga terhadap pergerakan nilai tukar yang tidak
stabil.
B. Efek Laporan
Keuangan Terhadap Kurs Alternatif Translasi Mata Uang Asing
Kegiatan
operasional yang memberikan keuntungan seblum transaksi mata uang asing mungkin
akan mengalami kerugian atau keuntungan yang menurun setelah translasi mata
uang asing. Untuk mentranslasikan neraca mata uang asing terhadap mata uang domestik
terdapat tiga kurs translasi:
1. Kurs saat ini, adalah kurs yang berlaku pada tanggal
laporan keuangan.
2. Kurs historis, adalah translasi mata uang yang beraku
saat aset dengan mata uang asing pertama kali didapatkan atau saat kewajiban
dengan mata uanga asing pertama kali muncul.
3. Kurs rata-rata, adalah nilai rata-rata biasa atau
dengan pembobotan baik pada kurs histori maupun kurs saat ini.
Efek-efek
atas laporan keuangaan apa yang dihasilkan karena menggunakan kurs historis
ataupun kurs berlaku sebagai koefisien translasi valuta asing? Nilai tukar
historis umumnya mempertahankan biaya awal yang ekivalen dari item valuta asing
dalam laporan valuta domestik. Pemakaian kurs historis membentengi laporan
keuangan dari kerugian atau euntungan translasi valuta asing, yaitu, dari
peningkatan atau penurunan dalam dolar-ekivalen dari saldo valuta asing akibat
fluktuasi kurs translasi antar periode pelaporan.
C.
Keuntungan dan kerugian translasi mata uang
1. Penangguhan
Beberapa analisis tentang
penangguhan dengan dasar bahwa nilai tukar tidak akan berbalik dengan
sendirinya. Bahkan jika terjadi, penyesuaian karena nilai tukar penangguhan
dalam memprediksi perubahan nilai tukar ada;ah tugas yang paling sulit.
2. Penangguhan
dan amortisasi
Beberapa perusahaan
menangguhkan keuntungan dan kerugian serta mengamortisasi penyesuaian melebihi
umur manfaatnya pada masa item neraca terkait. Pendekatan semacam ini terkadang
dikritik dengan dasar teori dan praktik.
3. Penangguhan sebagian
Pilihan ketiga dalam
akuntansi untuk keuntungan dan kerugian hasil translasi mata uang asing adalah
dengan mengakui kerugian segera saat terjadi, akan tetapi mengakui keuntungan
hanya jika terealisasi
4. Tidak
ada penangguhan
Pilihan laporan
akhir yang dilakukan oleh banyak perusahaan diseluruh dunia adalah untuk
mengenali secara cepat mengenai keuntungan dan kerugian translasi mata uang
asing dalam laporan laba-rugi
D. Metodologi Translasi Mata Uang Asing
1.
Metode Nilai Tukar Tunggal
Kurs terkini atau
kurs penutupan untuk seluruh aktiva dan kewajiban lancar. Pendapatan dan beban dalam mata uang asing umumnya
ditranslasikan dengan menggunakan kurs nilai tukar yang berlaku pada saat
pos-pos tersebut diakui. Umumnya ditranslasikan dengan menggunakan rata-rata
tertimbang kurs nilai tukar yang tepat untuk periode tersebut. Berdasarkan
metode kurs kini, laporan konsolidasi tetap mempertahankan hubungan laporan
keuangan perusahaan secara individu pada awalnya (seperti rasio keuangan) pada
saat seluruh pos-pos laporan keuangan dalam mata uang asing ditranslasikan
dengan menggunakan satu kurs tunggal. Metode kurs kini mengasumsikan bahwa
seluruh aktiva dalam mata uang lokal menghadapi risiko nilai tukar karena kurs
nilai kini mengubah seluruh aktiva kini luar negeri setiap terjadi perubahan
nilai tukar. Nilai persediaan dan aktiva tetap didukung oleh inflasi lokal.
Dengan mentranslasikan seluruh saldo dalam mata uang asing dengan menggunakan
kurs kini menghasilkan keuntungan dan kerugian translasi setiap kali terjadi
perubahan kurs nilai tukar. Kebanyakan keuntungan dan kerugian ini tidak akan
pernah direalisasi penuh.
2.
Metode Nilai Tukar Ganda
Metode nilai tukar ganda mengombinasikan kurs saat
ini dan kurs historis dalam proses translasi mata uang asingnya.
3. Metode
Current-Noncurrent
Metode ini merupakan metode yang
paling tua di antara metode konversi mata uang. Dengan metode ini, semua asset
dan kewajiban lancer dari cabang-cabang perusahaan dikonversikan dalam mata
uang Negara asal dengan kurs saat ini, yaitu kurs pada saat neraca disusun.
Sedang asset dan kewajiban yang tidak lancar (noncurrent),seperti biaya
depresiasi, dikonversikan pada kurs histories, yaitu kurs pada saat asset
diperoleh ataupun pada saat kewajiban terjadi. Oleh karena itu, cabang
perusahaan di luar negeri yang memiliki modal kerja yang dinilai positif dalam
mata uang local akan meningkatkan resiko rugi (translation loss) akibat
devaluasi dengan metode current/non current. Sebaliknya bila modal kerja
ternyata negative dinilai dalam mata uang local berarti terdapat keuntungan
(translation gain) akibat revaluasi dengan metode tersebut.
Namun demikian, metode ini tidak mempertimbangkan unsur ekonomis. Menggunakan kurs akhir tahun untuk mentranslasikan aktiva lancar secara tidak langsung menunjukkan bahwa kas, piutang, dan persediaan dalam mata uang asing sama-sama menghadapi risiko nilai tukar. Hal ini tentu tidak tepat. Sebaliknya, translasi utang jangka panjang berdasarkan kurs histories mengalihkan pengaruh mata uang yang berfluktuasi kedalam tahun penyelesaian.
Namun demikian, metode ini tidak mempertimbangkan unsur ekonomis. Menggunakan kurs akhir tahun untuk mentranslasikan aktiva lancar secara tidak langsung menunjukkan bahwa kas, piutang, dan persediaan dalam mata uang asing sama-sama menghadapi risiko nilai tukar. Hal ini tentu tidak tepat. Sebaliknya, translasi utang jangka panjang berdasarkan kurs histories mengalihkan pengaruh mata uang yang berfluktuasi kedalam tahun penyelesaian.
4.
Metode Moneter-Nonmoneter
Asset moneter (terutama kas,
surat-surat berharga, piutang, dan piutang jangka panjang) dan kewajiban
moneter (terutama utang lancar dan utang jangka panjang) dikonversi pada kurs
saat ini. Sedang pos-pos nonmoneter, seperti stock barang, asset tetap, dan
investasi jangka panjang, dikonversi pada kurs histories.
Pos-pos dalam laporan laba/rugi dikonversi pada kurs rata-rata pada periode tersebut, kecuali untuk pos penerimaan dan biaya yang berkaitan dengan asset dan kewajiban non moneter. Biaya depresiasi dan biaya penjualan dikonversi pada kurs yang sama dengan pos dalam neraca. Akibatnya, biaya penjualan bisa saja dikonversi dengan kurs yang berlainan dengan kurs yang digunakan untuk mengkonversi penjualan. Perlu diperhatikan bahwa metode moneter-non moneter bergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan kurs translasi yang tepat. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang kurang tepat. Metode ini juga akan mendistorsikan marjin laba karena menandingkan penjualan berdasarkan harga dan kurs translasi kini dengan biaya penjualan yang diukur sebesar biaya perolehan dan kurs translasi histories.
Pos-pos dalam laporan laba/rugi dikonversi pada kurs rata-rata pada periode tersebut, kecuali untuk pos penerimaan dan biaya yang berkaitan dengan asset dan kewajiban non moneter. Biaya depresiasi dan biaya penjualan dikonversi pada kurs yang sama dengan pos dalam neraca. Akibatnya, biaya penjualan bisa saja dikonversi dengan kurs yang berlainan dengan kurs yang digunakan untuk mengkonversi penjualan. Perlu diperhatikan bahwa metode moneter-non moneter bergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan kurs translasi yang tepat. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang kurang tepat. Metode ini juga akan mendistorsikan marjin laba karena menandingkan penjualan berdasarkan harga dan kurs translasi kini dengan biaya penjualan yang diukur sebesar biaya perolehan dan kurs translasi histories.
5.
Metode Kurs Sementara
Translasi mata uang merupakan proses konversi pengukuran atau penyajian ulang
niai tertentu. Metode ini tidak mengubah atribut suatu pos yang diukur,
melainkan hanya mengubah unit pengukuran. Translasi saldo-saldo dalam mata uang
asing menyebabkan pengukuran ulang dominasi pos-pos tersebut, tetapi bukan
penilaian sesungguhnya. Kas diukur berdasarkan jumlah yang dimiliki pada
tanggal neraca. Piutang dan utang dinyatakan sebesar jumlah yang diperkirakan
akan diterima atau akan dibayarkan pada saat jatuh temponya. Aktiva dan
kewajiban lain-lain diukur sebesar harga uang saat pos-pos tersebut diakuisisi
atau terjadi (harga historis). Namun demikian, beberapa pos diukur sebesar
harga yang terjadi per tanggal laporan keuangan (harga kini), seperti
persediaan berdasarkan aturan mana yang lebih rendah antara biaya perolehan
atau harga pasar.
Berdasarkan metode temporal, pos-pos moneter seperti kas, piutang dan utang
ditranslasikan berdasarkan kurs kini. Pos-pos pendapatan dan beban
ditranslasikan sebesar kurs yang terjadi pada saat transaksi berlangsung.
Metode temporal memiliki keuntungan dan kerugian yang sama dengan metode moneter
nonmoneter karena sengaja mengabaikan inflasi local, metode ini memiliki
keterbatasan dengan metode translasi lain.Akuntansi biaya historis juga
mengabaikan inflasi.
E. Pengembangan
Akuntansi Translasi Mata Uang Asing
Praktik
akuntansi translasi mata uang asing telah berkembang seiring waktu dalam respon
terhadap meningkatnya kompleksitas operasional multinasional dan perubahan
dalam sistem moneter internasional.
1.
Pra-1965
Sebelum
tahun 1965 praktik translasi mata uang asing pada banyak perusahaan di AS dipandu
olehAccounting Research Bulletin No. 43. Pernyataan tersebut mengadvokasi
metode current-noncurrent. Keuntungan dan kerugian transaksi ditambahkan
secara langsung terhadap pendapatan. Kerugian translasi mata uang asing bersih
diakui dalam pendapatan lancar, sementara keuntungan translasi mata uang asing
ditangguhkan dalam akun tunda di neraca pembukuan dan digunakan untuk menutup
kerugian translasi mata uang asing dalam periode yang akan datang.
2.
1965-1975
ARB No. 43
memperbolehkan beberapa pengecualian khusus dalam
metode current-noncurrent. Dalam keadaan khusus, persedian dapat
ditranslasikan dengan kurs historis. Utang jangka panjang terjadi untuk
mendapatkan aset jangka panjang yang disajikan ulang dengan kurs saat ini saat
terdapat perubahan besar dalam nilai tukar. Translasi mata uang asing seluruh
pembayaran dan penerimaan mata uang asing pada kurs tersebut diperbolehkan
setelah Accounting Principles Board Opinion No. 6 dikeluarkan pada tahun
1965.
3.
1975-1981
Pada tahun
1975, FASB mengeluarkan FAS No. 8 untuk mengakhiri perbedaan metode pada
standar translasi mata uang asing sebelumnya. Keputusan tersebut dikritik
karena menghasilkan akuntansi yang tidak sejalan dengan realitas ekonomi.
Mereka mengkhawatirkan jika laporan perusahaan multinasional akan lebih mudah
berubah daripada perusahaan domestik, dengan demikian menekan harga saham
mereka.
4.
1981-sekarang
Pada bulan
mei 1978, FASB mengundang komentar masyarakat tentang 12 keputusan pertamanya.
Kebanyakan dari 200 surat yang diterima berhunbungan dengan FAS No. 8, meminta
untuk mengubahnya. Sebagai respon terhadap ketidakpuasan tersebut, FASB
mempertimbangkan FAS No. 8 dan setelah beragam pubic meeting dan dua penjelasan
berkas, akhirnya mengeluarkan statement of financial Accounting Standards No. 52
pada tahun 1981.
F. Gambaran
Standard No.52 / Standar akuntansi Internasional 21
Tujuan translasi mata uang asing
dalam FAS No. 8 berbeda secara substansi dari FAS No. 52. FAS No.8, mengadopsi
perspektif induk perusahaan dengan memberi syarat bahwa laporan keuangan mata
uang asing dipresentasikan jika seluruh transaksi mengikuti mata uang yang
digunakan induk perusahaan. Standar No. 52 mengakui bahwa kedua perspektif baik
induk perusahaan maupun perusahaan lokal benar sebagai kerangka kerja
laporan. Pada level internasional, IASB mengeluarkan keputusan paralel,
IAS 21, yang sekarang berkembang untuk mengklarifikasi persyaratannya dan
memecahkannya. Keduanya, FS No. 52 dan versi baru IAS 21 bertujuan untuk:
1. Menampilkan, dalam laporan gabungan, hasil keuangan
dan keterhubungan dihitung dengan mata uang primer yang dikonsolidasikan antara
laporan induk dan anak perusahaan bisnis (dengan mata uang fungsional).
2. Menyediakan informasi yang secara umum kompatibel
dengan efek ekonomi yang diharapkan pada perubahan nilai tukar pada ekuitas dan
arus kas perusahaan.
Translasi saat Mata Uang Lokal adalah Mata Uang
Fungsional
Prosedur
kurs saat ini yang digunakan adalah:
a. Seluruh asset dan kewajiban asing yang ditranslasikan
terhadap dolar menggunakan nilai tukar yang berlaku pada tanggal neraca; akun
modal ditranslasikan pada kurs historis.
b. Pendapatan dan beban ditranslasikan menggunakan nilai
tukar yang berlaku pada waktu transaksi, walaupun nilai tukar rata-rata
tambahan dapat digunakan untuk kelayakan.
c. Keuntungan dan kerugian dilaporkan dalam komponen
ekuitas gabungan pemegang saham yang terpisah. Penyesuaian nilai tukar tersebut
tidak dimasukkan ke dalam laporan laba-rugi hingga operasional luar negeri
telah terjual atau investasi telah diputuskan tidak bernilai.
Translasi saat Mata Uang Induk Perusahaan adalah Mata
Uang Fungsional
a. Aset dan kewajiban serta nonmoneter bernilai pada
harga pasar saat itu ditranslasikan menggunakan nilai tukar yang berlaku pada
saat laporan keuangan; item nonmoneter lainnya dan modal ditranslasikan pada
kurs historis.
b. Pendapatan dan beban ditranslasikan menggunakan nilai tukar
rata-rata untuk periode kecuali item yang berhubungan dengan item nonmoneter
(contoh: biaya penjualan dan beban depresiasi), yang ditranslasikan menggunakan
kurs historis.
c. Keuntungan dan kerugian translasi mata uang asing
direfleksikan dalam pendapatan lancar.
Translasi saat Mata Uang Asing adalah Mata Uang
Fungsional
Usaha gabungan asing mungkin akan
tetap mencatat pembukuannya dalam satu mata uang asing saat mata uang
fungsionalnya adalah mata uang asing lain. Dalam situasi ini, laporan keuangan
akan dihitung ulang dari mata uang local ke dalam mata uang fungsional (metode
kurs sementara) lalu ditranslasikan ke dalam dolar AS menggunakan metode kurs
saat ini.
G. Permasalahan
Perhitungan
Perspektif
Laporan : FAS No. 52 tidak konsisten dengan teori konsolidasi
a. Harga
Perolehan : mentranslasikan neraca berdasarkan harga perolehan dengan nilai
tukar saat ini tidak menghasilkan harga perolehan ataupun nilai lancar
b. Konsep
Pendapatan : penyesuaian dibuat berhubungan langsung dengan ekuitas pemegang
saham, tidak dihitung dalam laporan laba-rugi
c. Laba
Terkelola : translasi mata uang asing memberi peluang untuk mengelola laba
H. Translasi Mata Uang Asing dan Inflasi
Hubungan
terbalik antara tingkat inflasi sebuah negara dengan nilai eksternal mata
uangnya telah ditunjukkan secara empiris. Sehingga penggunaan kurs saat ini
untuk mentranslasikan biaya asset nonmoneter yang bertempat dalam kondisi yang
cenderung berinflasi akan menghasilkan padanannya mata uang domestic jauh di
bawah nilai aslinya.
Penggunaan
kurs kini untuk mentranslasikan biaya perolehan aktiva non-moneter yang
berlokasi di lingkungan berinflasi pada akhirnya akan menimbulkan nilai
ekuivalen dalam mata uang domestik yang jauh lebih rendah dari pada dasar
pengukuran awalnya. Pada saat yang bersamaan, laba yang ditranslasikan akan
jauh lebih besar sehubungan dengan beban depresisasi yang juga lebih rendah.
Hasil translasi seperti itu dengan mudah dapat lebih menyesatkan pembaca ketika
memberikan informasi kepada pembaca. Penilaian dolar yang lebih rendah biasanya
merendahkan kekuatan laba akutal dari aktiva luar negeri yang didukung oleh
inflasi lokal dan rasio pengembalian atas investasi yang terpengaruh inflasi di
suatu operasi luar negeri dapat menciptakan harapan yang palsu atas keuntungan
masa depan.
FASB menolak penyesuaian inflasi
sebelum proses translasi, karena penyesuaian tersebut tidak konsisten dengan
kerangka dasar penilaian biaya historis yang digunakan dalam laporan keuangan
dasar di AS. Sebagai solusi FAS No 52 mewajibkan penggunaan dolar AS sebagai
mata uang fungsional untuk operasi luar negeri yang berdomisili dilingkungan
dengan hiperinflasi. Prosedur ini akan mempertahankan nilai konstan ekuivalen
dolar aktiva dalam mata uang asing, karena aktiva tersebut akan ditranslasikan
menurut kurs historis. Pembebanan kerugian translasi atas aktiva tetap dalam
mata uang asing terhadap ekuitas pemegang saham akan menimbulkan pengaruh yang
signifikan terhadap rasio keuangan. Masalah translasi mata uang asing tidak
dapat dipisahkan dari masalah akuntansi untuk inflasi asing.
I.
Praktik-Praktik
Translasi Mata Uang Asing Diberbagai Negara
Translasi mata uang asing telah diterapkan diberbagai negara seperti :
Translasi mata uang asing telah diterapkan diberbagai negara seperti :
·
Inggris : laporan keuangan
harus disesuaikan terlebih dahulu pada level harga saat itu lalu ditranslasikan menggunakan kurs
saat ini.
· Jepang : kurs saat ini pada
semua kondisi dengan penyesuaian translasi mata uang asing yang diperlihatkan pada neraca
dalam ekuitas pemegang saham.
· Amerika serikat : metode kurs
sementara.
BAB III
PENTUTUP
PENTUTUP
A.
Kesimpulan
Translasi mata uang asing adalah proses pelaporan informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya. Metodologi dalam translasi mata uang asing yaitu:
Translasi mata uang asing adalah proses pelaporan informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya. Metodologi dalam translasi mata uang asing yaitu:
1.
Metode Nilai Tukar Tunggal
2.
Metode Nilai Tukar Ganda
3.
Metode Current-Noncurrent
4.
Metode Moneter-Nonmoneter
5.
Metode Kurs Sementara
Translasi mata uang asing terus
berkembang di berbagai negara serta telah banyak praktik-praktik translasi mata
uang asing di berbagai belahan dunia seperti di Indonesia, Amerika, Inggris dan
lainnya yang secara teori merupakan transaksi yang kompleks
Sumber
:
http://maristafitri.blogspot.co.id/2015/05/translasi-mata-uang-asing-akuntansi.html
TESTIMONI PENERIMAAN PINJAMAN
BalasHapusSalam untuk Anda semua
Bagi saya, pinjaman antar individu tidak pernah ada. Tapi dengan mendengar beberapa kreditur yang tampak serius di forum dan blog pilihan saya diarahkan ke Lady lain yang dingin. Dia tidak memberiku pinjaman sebesar $ 47.000; Menurut hukum Eropa di Prancis, saya menyarankan Anda untuk membuat pilihan yang tepat untuk tidak jatuh pada jaringan palsu.
Terima kasih untuk semua yang bersaksi kepadanya; Ini adalah referensi. Anda dapat dengan aman menghubungi melalui e-mail perusahaan: Arlenewilliamsloanfinance@hotmail.com atau hubungi dia dengan nomor whatsapp +2349079785567.
Mohon hubungi dia dan terima kasih semua yang mencerminkan kemurahan hatinya kepada dunia ...
Salam
Farhan aldy
TESTIMONI PENERIMAAN PINJAMAN
BalasHapusSalam untuk Anda semua
Bagi saya, pinjaman antar individu tidak pernah ada. Tapi dengan mendengar beberapa kreditur yang tampak serius di forum dan blog pilihan saya diarahkan ke Lady lain yang dingin. Dia tidak memberiku pinjaman sebesar $ 47.000; Menurut hukum Eropa di Prancis, saya menyarankan Anda untuk membuat pilihan yang tepat untuk tidak jatuh pada jaringan palsu.
Terima kasih untuk semua yang bersaksi kepadanya; Ini adalah referensi. Anda dapat dengan aman menghubungi melalui e-mail perusahaan: Arlenewilliamsloanfinance@hotmail.com atau hubungi dia dengan nomor whatsapp +2349079785567.
Mohon hubungi dia dan terima kasih semua yang mencerminkan kemurahan hatinya kepada dunia ...
Salam
Farhan aldy